Skip to main navigation Skip to search Skip to main content

Strategi tumpang sari perkebunan kelapa Sawit untuk meningkatkan efisiensi penggunaan lahan, partisipasi masyarakat lokal, dan penghidupan petani kecil: pembelajaran dari bengkulu dan kalimantan selatan

  • Maja Slingerland
  • , Suria Tarigan
  • , Ika Sumantri
  • , Nahrowi Sudradjat
  • , Hariyadi (Editor)
  • , Aritta Suwarno
  • , Joko Purnomo
  • , Lotte Woittiez
  • , Rosa de Vos
  • , Jusrian Yanda
  • , Eva Anggraini (Editor)
  • , Muhammad Majiidu (Editor)
  • , Puput Noerfitriani Muzzayyanah (Editor)
  • , Mei Kartika Permata (Editor)
  • , Jan Verhagen
  • , Arya Hadi Dharmawan
  • , Diah Y Suradireja

Research output: Book/ReportReportProfessional

Abstract

Perkebunan kelapa sawit di Indonesia merupakan sektor penting bagi pertumbuhan ekonomi lokal, khususnya di wilayah seperti Bengkulu dan Kalimantan Selatan. Namun, tahun-tahun awal ketika pohon kelapa sawit belum produktif menyebabkan sebagian besar lahan tidak dimanfaatkan secara optimal. Sistem tumpang sari—menanam tanaman pangan atau pakan di antara barisan kelapa sawit muda— merupakan salah satu metode untuk mengatasi masalah tersebut. Metode ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan lahan, memberikan pendapatan tambahan bagi petani kecil, dan mengurangi dampak lingkungan karena mengurangi kebutuhan untuk pembukaan lahan baru. Program ini sejalan dengan beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, seperti tanpa kelaparan, pengentasan kemiskinan, kehidupan di darat, dan aksi terhadap perubahan iklim, serta mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di komunitas pedesaan. Namun, implementasi tumpang sari di perkebunan kelapa sawit masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk keterbatasan akses modal bagi petani kecil, akses pasar untuk hasil panen, meningkatnya kebutuhan tenaga kerja, dan kebutuhan pelatihan dalam pertanian tumpang sari. Perkebunan besar swasta juga cenderung menolak tumpang sari karena kekhawatiran akan persaingan antar komoditas dalam memenuhi kebutuhan unsur hara tanah, dan gangguan terhadap operasi manajemen perkebunan. Salah satu solusinya adalah menghubungkan petani kecil dan perkebunan besar swasta dengan investor, pemasok input, pendamping teknis, dan pembeli hasil panen melalui kemitraan antara pemerintah, LSM, sektor swasta, dan lembaga pengetahuan. Selain itu, kebijakan pemerintah untuk mempromosikan tumpang sari melalui insentif, peningkatan infrastruktur, pedoman yang jelas, dan dukungan akses pasar akan signifikan meningkatkan keberlanjutan dan kesejahteraan petani kecil
Original languageIndonesian
Place of PublicationNetherlands
PublisherSustainPalm
Number of pages6
DOIs
Publication statusPublished - 30 Oct 2024

Cite this